Seminar Nasional “Peluang dan Tantangan Guru Masa Depan”

Serangkaian kegiatan Pembekalan Pendidikan Profesi Guru (PPG) berakhir dengan menjawab pertanyaan:

“Apa dan Bagaimana Peluang dan Tantangan Guru di Masa Mendatang yaitu Era Revolusi Industri 4.0”

Guru Indonesia harapannya bisa berkembang di Kawasan ASEAN, tidak hanya di Indonesia, dan peluangnya terbuka lebar karena sudah memasuki Era Revolusi Industri 4.0. Guru selain menguasai apa itu teknologi juga harus bisa menjelaskan bagaimana cara mengaplikasikannya. Tantangan tersebut menjadi bahan Pemakalah I yaitu Prof. Intan Ahmad, Ph.D dari Institut Teknologi Bandung pada Seminar Nasional PPG yang diselenggarakan Pusat Sertifikasi dan Pendidikan Profesi-LP3M Universitas Negeri Jakarta. Lebih dari 420 peserta yang terdiri dari Wakil Rektor, Dekan, Dosen, Staf UPT dan Mahasiswa PPG SM3T Angkatan VI dan Prajabatan Bersubsidi Gelombang II menghadiri seminar tersebut di Aula Latief Gd. Dewi Sartika, UNJ tanggal 19 Desember 2018 kemarin.

Prof Intan menjelaskan bahwa adanya kemajuan terkait artificial intelligence seperti munculnya robot maka generasi profesional muda harus bisa bahasa program dan pengolahan data. “Jika menguasai data, maka bisa menguasai dunia.” tegasnya. Bonus Demografi di Indonesia sebaiknya diisi dengan pendidikan yang baik pula karena apapun yang diajarkan guru di kelas akan berdampak pada siswanya.

“Masalah pendidikan sekarang tidak bisa diselesaikan dengan cara jaman dulu, sehingga berbicaralah di depan kelas sesuai relevansi kondisi saat ini,” kata Prof Intan menambahkan. Sebenarnya kurikulum pendidikan tidak perlu diubah, tetapi hanya menyesuaikan dengan kejadian yang relevan. Hal ini membuat dinamika kurikulum di Indonesia pun menjadi penting dan dibahas menjadi bahan Pemakalah II yaitu Prof. Syawal Gultom, M.Pd dari Universitas Negeri Medan pada seminar tersebut.

“Indonesia sudah ganti kurikulum sebanyak 10 kali, tetapi dibalik perubahan-perubahan itu yang terjadi justru fenomena ‘Guru Lebih Tapi Kurang’. Karena yang terjadi saat ini adalah masalah klasik yaitu mismatch. Perlu adanya revitalisasi LPTK dan perbaikan standar yang terkait kompetensi kepribadian.” jelas Prof Syawal.

Hidup di masa depan kuncinya adalah menguasai IT dan Bahasa Inggris. Bekal ilmu yang diperoleh peserta sebagai profesional muda setelah mengikuti seminar ini bisa digunakan untuk siap menghadapi tantangan-tantangan itu. Jangan khawatir dengan hebatnya robot di Era Revolusi Industri 4.0, karena robot diciptakan oleh manusia yang sebenarnya bisa diatur oleh manusia itu sendiri.

 

(CN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *